Sabtu, 20 November 2010

Mengunjungi Lokasi Korban Banjir Mangkang di Semarang

Kegiatan Sekolah Jumat tanggal 19 Nopember ini adalah mengunjungi daerah korban banjir Mangkang di Semarang.  Dengan 2 armada, sekolah memberikan bantuan berupa uang dan barang.  Tidak ketinggalan, beberapa personil Gitaswara ; Puput, Osa dan Tia (eks) berpartisipasi membantu korban bencana yang terjadi pada minggu lalu.
Dalam perjalanan memasuki daerah lokasi memang sungguh memprihatinkan, banyak rumah yang rusak, beberapa perabotan yang keluar, kotor, berlumpur dan tercerai berai tidak pada tempatnya.  Ada tembok sekolah yang hancur, rumah warga yang rusak parah, bahkan ada rumah yang hanya tinggal kerangkanya saja.  Jalanan yang masih becek, berlumpur, berdebu, dan suasana kesedihan masih mewarnai para penduduk yang tinggal di daerah tersebut.  Beberapa orang masih terlihat sibuk membenahi dan memperbaiki rumahnya, ada pula yang hanya fakum menunggu bantuan datang karena mereka tidak tahu harus berbuat apa dan dari mana mereka memulai.  Terlalu banyak hal yang rusak dan harus dibenahi.  Bencana tersebut memang sangat diluar dugaan. Mereka tidak pernah mengira akan terjadi datangnya banjir (bandang) yang datang secara cepat dan tiba-tiba.  Mereka tidak sempat menyelamatkan harta bendanya, karena saat itu yang dipikirkan adalah menyelamatkan dirinya dari terjangan banjir yang keras dan kuat.

Menurut cerita salah satu warga, kejadian saat itu diawali dengan turun gerimis pukul 3 sore namun warna langit seperti menjelang maghrib.  Petir dan guntur berkali-kali terdengar memecah awan kehitaman.  Tiba-tiba air dengan volume air sungai datang membanjiri daerah pemukiman warga.  Para penduduk dengan ketakutan berusaha menghindari terjangan air tersebut.  Ada yang berusaha lari ke tempat yang lebih tinggi dan berteriak minta tolong sembari menyelamatkan diri, ada juga yang berusaha naik pohon, Air menggenang hingga 3 - 4 meter, menenggelamkan dan menghanyutkan rumah-rumah yang ada.  Sangat memprihatinkan dengan rumah yang berada di dataran rendah, karena rumah-rumah tersebut hanya terlihat atap gentingnya saja.  
Anjang sana korban banjir oleh Sekolah Al-Azhar 25 ini berlangsung selama 4 jam.  Beberapa penduduk menyambut baik dan merasa senang dengan kehadiran Sekolah ini.  Meskipun bantuan tidak seberapa, namun mereka merasakan perhatian dan solidaritas dari calon generas penerus bangsa.  Murid-murid secara bergantian menyalami dan memberikan bantuan kepada tiap-tiap penduduk yang tertimpa bencana banjir dimulai dari rumah-rumah penduduk yang hancur parah.  Hal itu dilakukan pada tiap-tiap rumah secara berurutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar